Mengenalmu dan menjadi dekat denganmu adalah hadiah
terindah dari Tuhan untukku...

Saat itu, di tempat kos kita, jalan
Jemur Wonosari gang 3 no 7B, saat pertama kali aku mengenalmu, kau menyapaku,
dan kita saling berjabat tangan dan mengucap nama,
“aku
kos baru disini, namaku ziza” ucapku kala itu.
Dengan
tersenyum kau membalas “aku Any...”
Masih teringat dengan jelas gambaran
dirimu kala itu, postur tinggimu membuatku mengira kau jauh lebih tua dariku,
dengan kaos hijau dan celana pendek sebagai penutup tubuhmu, semakin membuatku
yakin akan fikiranku.
Taukah... kau adalah orang pertama
yang aku kenal di tempat kos kita, aku orang baru yang tak saling kenal kalian,
dan tanpa satu orangpun yang ku kenal di tempat baru itu. Layaknya orang asing
yang tak tahu apapun. Meski kau orang pertama yang ku kenal, namun, cukup lama
kita tak saling dekat, kita hanya sebatas saling tahu, bahkan setelah hari kita
saling menyebut nama, aku lupa akan namamu.
Haripun berganti, namun tetap kita
tak saling dekat, hanya sesekali menyapa, itupun saat kita saling tatap muka,
kala itu setiap harinya aku sebenarnya iri dengan kalian, kalian yang selalu
bertiga, kamu, Nuro dan Wiwid, entah kenapa aku selalu melihat kalian dan ingin
bergabung bersama kalian.
Namun, seiring bergantinya hari dan
kebersamaan yang saling kita jalani, membuat kita saling mengisi, masih
ingatkah setiap pagi kita dandan bersama dan saling berganti cermin, cermin
lemari yang besar yang cuma ada satu dan terletak diruang TV, saling berebut
kamar mandi, kamar mandi juga cuma satu dengan sembilan orang penghuni, yang
saat itu kita sering kehabisan air, menonton TV bersama kala shubuh, saat masih
semester awal, yang masih kuliah pagi. Teringat saat air sumur habis, aku, kamu
dan Nuro pergi ke masjid kampus untuk mandi disana, parahnya salah satu dari
kita membawa pakaian kotor untuk dicuci disana, meski saat itu jalanan masih
gelap, karna memang masih shubuh, kita tetap pergi kesana dengan berjalan kaki,
dan semua itu atas inisiatif senior kita, dan kita ngikutin apa yang dia
katakan.
Suatu ketika salah satu dari kalian
bertiga (kau, Nuro dan Wiwid) mulai renggang dan aku mulai masuk, menyusup
diantara kalian, yang tanpa sadar salah satu dari kalian mulai terpisah, entah
aku penyebannya atau memang masalah internal antara kalian. Kitapun menjadi
bertiga, hingga kemana-mana selalu bersama. Banyak canda tawa, dan tangis
menghiasi kita. Kita sering menghabiskan waktu bersama, ber experimen membuat
hal-hal konyol, menonton TV bersama sampai larut malam, meski akhirnya kita
tertidur pulas, dan TV yang menonton kita, makan bersama di ruang tamu, membawa
piring dari kamar masing-masing dan pergi kedepan. Kita juga sering mengerjakan
tugas bersama, meski salah satu dari kita, ada yang bikin jengkel dengan tanya
ini itu, yang terkadang pada akhirnya kamu yang mengerjakan tugasnya. Kita juga
sering jalan-jalan bersama, entah itu ke mall terdekat atau ke tempat lain.


Gambar diatas adalah saat kita akan
pergi ziarah ke sunan ampel, meski saat pulang salah satu dari kita pulang
duluan, tapi itu adalah salah satu kenangan yang tak terlupakan.
Suara azan membangunkan kita, sang
mentari mulai membuka matanya dan segera aka ternsenyum menyapa kita, meski
jalana masih gelap, saat itu kita keluar kos dan lari-lari pagi keliling kompleks, atau sekedar mampir ke
taman untuk berfoto ria..



Suatu ketika, teman sekamarku
pindah, kaupun pindah dan sekamar denganku, dan itu membuat kita semakin dekat,
saling mengenal, mengerti satu sama lain, dikamar itu kita membuat banyak memori
indah, kamar itu menjadi saksi kedekatan kita, aku, kamu (Any) dan Nuro, kita
sering katawa-ketawa disitu hingga banyak yang komplain karna kita terlalu
ramai, kita juga sering menangis disitu, itu ketika masa-masa awal kita sebelum
Ibu kos kita pindah ke tempat kos kita, dan disitu mulailah semua kesenangan
terganggu saat akhirnya Ibu kos pindah ke tempat kita, satu persatu penghuni
kos keluar, senior-senoir kita pergi hingga akhirnya hanya tinggal beberapa
saja, dan tak lama juga teman dekat kita pun pergi meninggalkan kita, ia
menikah, pernikahannya membuat sedikit celah antara persahabatan kita, bukan
tanpa alasan, saat itu kita marah karna dia tidak terbuka pada kita dan
menyembunyiakan semuanya, dia diam dan menyembunyiakan pernikahannya hingga pada
akhirnya kitai mengentahuinya, perasaan kecewa memang ada tapi kita tersenyum
dan merangkulnya sebagai seorang sahabat, dengan menghargai segala yang dia
anggap privasi baginya.

Setelah kepergiannya (Nuro), awalnya
memang terasa sepi dan berasa kehilangan namun seiring berjalannya waktu, semua
berjalan dengan menyenangkan, meski terkadang kita mendapat tekanan dari Ibu
kos yang sering komplain dan marah pada kita. Sesekali terlintas untuk pindah
namun sering tak terlaksana.
Waktu terus berjalan, haripun
berganti terus menerus, semakin banyak pengalaman yang kita lalui bersama,
semakin banyak waktu yang kita habiskan bersama, kita semakin terbuka, saling
berbagi cerita, entah itu tentang teman-teman dekat kita masing-masing, entah
itu tentang keluarga, entah itu tentang sang pujaan, bahkan kucingpun menjadi
pembahasan, dan aku selalu merindu saat malam sebelum kita terlelap, dimana
kita saling berbagi cerita.



Narsis-narsis dikamar adalah
kebiasaan yang sering kita ulang berkali-kali, ada kisah lucu karna bintang
sebagai alasan, salah satu teman kita merelakan kakinya yang terluka dengan
alasan melihat bintang, hingga akhirnya kita membuat bintang sendiri dan menggantungnya
di atap kamar kita, dan ketika malam tiba kita menyalakan lampu kuning, sehingga
bintang itu terlihat berkelap-kalip, sungguh indah... terkadang sebelum
terlelap aku selalu memandang bintang buatan kita hingga akhirnya membuatku
memejamkan mataku.

Setiap hari minggu kita sering pergi
ke bazar, padahal terkadang kita hanya membeli soto dan warung itu padahal
lokasinya tak di bazar, meski bazar tempatnya sangat jauh namun kita sering
berjalan kesana, entah itu hanya untuk bersenang-senang, atau cuci mata, tak
jarang saat kita berjalan bersama kita sering ketawa-ketawa tak jelas, banyak
objek tak jelas yang kita tertawakan. Menyebrangi rel juga merupakan salah satu
rutinitas yang sering kita lakukan.




Perjalanan
ke bazar, berhenti ditempat-tempat konyol untuk bernasis ria...




Kita juga saat tak ada kuliah sering
meluangkan waku untuk pergi ke perpustakaan, nongkrong disana, cuci mata,
saling menunjukkan pria yang kita sukai, hingga pada ahirnya kita sudah melihat
dan mengetahui pria pujaan kita masing-masing.
Masih ingatkah saat kamar mandi kos
kita direnovasi, kita seperti orang terlatar, untuk mandi kita kesana-kesini
mencari tumpangan, kadang saat shubuh kita uda mandi hanya untuk menghindari
sesuatu, yang membuatku terharu ketika kau menahan rasa sakit karna pengen BAB,
dengan penuh kasihan aku memandangmu yang penuh sakit, duduk dibawa,
berkeringat dingin, diam membisu, sembari kedua tanganmu tergenggam erat,
sungguh saat itu aku sangat kasihan melihatmu, hal lucu juga terjadi juga saat
itu setiap kau terbangun aku selalu bertanya, “bro.. ados ta?”
Sertiap kali kau bergerak aku
bertanya seperti itu berkali2, anehnya kaupun terus menjawabnya “tidak”.
Saat itu, masih kamar mandi yang
direnovasi, kita sering ke kampus untuk numpang mandi di masjid, padahal saat
itu hari libur kulia, kita berangkat kesana sampai mangrib baru pulang, yang
sangat lucu saat kita di masjid saat sore menjelang banyak nyamuk-nyamuk
berkrumunan di atas kepala kita, sepertinya nyamuk-nyamuk itu memahami perasaan
kita yang sangat menderita saat itu, masih teringat dengan jelas saat hari
minggu kita mandi di gedung Adab, kau mandi sungguh sangat lama dan
meninggalkanku bersama ibuk-ibuk tak dikenal, setelah kita terlantar di masjid
terbengong-bengong karna saking ramainya, jujur saat itu, saat di masjid,
ketika aku melihat keramaian itu, aku sangat sedih, sedih memikirkan, kapankah
keramaian itu berakhir dan kita bisa mandi dengan tenang, lebih parah lagi saat
aku memandangmu menahan sakitnya perutmu yang ingin BAB, kau bahkan
mondar-mandir ke kamar mandi tapi tak bisa masuk karna saking antrinya. Sungguh
sangat menyedihkan.
Masih ingatkah... dulu, setiap
malam, setiap aku bergerak keluar kamar, kau pasti selalu bertanya, “bro... mau
kemana?” selalu saja seperti itu padahal, jawabanku selalu sama, “pipis” namun,
kau terus saja bertanya, dan mengulangnya berkali-kali, sungguh saat ini setiap
kali aku mengingatnya aku selalu tertawa sendiri.
Dan seiring bertambahnya hari, pada
akhirnya kos kita tinggal empat orang, anaknya Ibu kos pindah ke tempat kita
membuat kita semakin tertekan, apalagi saat aku kalian tinggal pulang, aku
sendirian disana, sungguh sangat menyedihkan, saat itu, kita mondar-mandir cari
kos baru, kesana-kesini ngak jelas, yang pada akhirnya tak pernah kita dapatkan
kos yang sesuai, sehingga kita tetap tinggal di kos lama kita, awalnya terasa
canggung dengan pindahnya anaknya Ibuk kos, tapi lama-lama kita sedikit bisa
membiasakannya, mengamati kegiatan mereka, kita juga banyak mengambil pelajaran
dari mereka, ada hal yang membuat kita sedikit ketakutan, saat mereka
bertengkar dengan hebatnya, kita terperangkap dalam kamar dan mendengarkan
semuanya, teriakan-teriakan yang menakutkan, sebuah tangisan, suara pukulan,
hingga sapu kita menjadi korban.
Semua waktu berlalu begitu saja,
terasa baru kemarin kita menjadi mahsaiswa baru, kini kau sudah diwisuda lebih
dulu dari aku, kau meninggalkanku sendiri menghadapi semuanya, ku cari kos
baru, yang ternyata aku hanya bisa bertahan disana cuma satu bulan, aku merasa
kehilanganmu, tanpamu disampingku terasa sangat berat, apalagi ditambah teman
yang tak sejalan. Saat itu, setiap malam saat yang lain tertidur aku selalu
mengingat kebersamaan kita, dan aku selalu menangisi itu, katika aku melewati
jalan yang dulu sering kita lewati, dadaku terasa begitu sesak, aku merindukan
jalan bersamamu di jalan itu.
Saat ini, jika di hitung sudah
beberapa bulan kita terpisah, semoga kita tetap menjadi sahabat sampai
kapanpun, semoga kita bisa tetap terus melangkah dan menggenggam mimpi kita
masing-masing, pengalaman yang tlah kita lalui, kisah-kisah yang tlah kita
rangkai bersama semoga tetap tersimpan rapi dalam memori kenangan kita, yang
kelak akan kita ceritakan pada anak dan cucu-cucu kita, jarak dan waktu boleh
memisahkan kita tapi ku harap hati kita tetap satu, tali persahabatan dan
persaudaraan yang sudah kita buat semoga tak pernah putus.


Tlah banyak yang kita lalui, canda
tawa, air mata, menghiasi perjalaanan kita, aku bahagia bisa menjadi sahabatmu,
terimakasih karna mau menerimaku, terima kasih karna bisa mengerti aku, dan
tetap bertahan disampingku dengan segala kukurangan yang aku miliki,
sifat-sifat keras kepalaku, sifat manjaku dan sifat-sifat burukku yang lain,
terima kasih karna kau bisa bertahan untuk tetap menerimaku sebagai seorang
sahabatmu...


Saat ini... saat mengingat semua itu
aku hanya bisa tersenyum dalam tangis, tersenyum karna kenangan-kenangan konyol
nan indah yang tlah kita lalui, namun aku menangis karna semua itu, semua yang
tlah kita lalui tak pernah bisa terulang kembali...






0 komentar:
Posting Komentar