RSS

Masih Rindu



Entah, rindu itu masih ada, meski hanya beberapa saat...
            “Aku merindukannya.” Bisikku dalam hati, kuraih ponsel, kubuka galeri foto mencari sosok yang aku rindukan, sesaat aku menatapnya meski tak ada air mata seperti dulu, namun ingatan itu seolah membawaku ke masa itu.
            V.... A. ....., begitulah namanya, dia teman semasa kuliahku, kami satu jurusan, juga satu kelas, meski tak setip hari, dan aku menikmatinya memandangi sosoknya saat kebetulan satu kelas dengannya.
            Kini, empat tahun itu tlah berlalu, sarjana tlah kita raih masing-masing, dan aku tak bisa lagi melihat pria itu, tak lagi bisa menikmati senyum serta mata indahnya, Ah! Tiga tahun aku menyukainya dan hanya memendam rasa itu, dan tak pernah kuucapkan padanya hingga waktu menghilang.
            Apakah aku menyesal karna menyukainya? Jika ditanya seperti itu, sampai saat ini aku tak menemukan rasa penyesalan karna menyukainya, karena apa? Karna berkat menyukainya aku memiliki banyak inspirasi, dan bisa menulis, aku berharap sampai saat terakhir hidupku rasa penyesalan karna menyukainya itu tak pernah ada, meski pada akhirnya ia tak pernah menjadi milikku.
            Apakah menyesal karena tak mengungkapkannya? Bisa iya bisa tidak, beberapa bulan yang lalu saat tak lagi bisa melihatnya, aku menulis puisi untuknya, puisi tentangnya yang kutulis untuk yang kesekian kalinya, kurangkai kata demi kata dan kubungkus rapi, lalu kukirim padanya meski dengan akun palsu, sebuah puisi pernyataan cinta, meski jawaban darinya tak sesuai yang kuinginkan tapi ada rasa seperti melayang saat aku menyatakannya, sebuah perasaan bebas, sebuah beban seolah terangkat tinggi, benar, rasa lega karna tlah mengungkapkannya setelah bertahun-tahun menyimpannya.
            Berlalalunya waktu serta menghilangnya waktu untuk tetap memandanginya membuat rasa itu perlahan memudar, yah... sengaja kulakukan, agar aku bisa melanjutkan hidupku, meski terkadang, tak bisa dipungkiri rindu akan sosoknya akan hadir, ingatan tentangnya serta masa-masa berada didekatnya akan bergelayutan dalam fikiran, dan itu sedikit mengngangguku. Namun, rindu sesaat itu, ingatan tentangnya itu selalu bisa buatku tersenyum, bahagia mengenalnya, dan bisa mencintainya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sebait Rindu



            Apakah aku merindukannya?
            Entah, namun, sepertinya rasa ini terasa berat, dadaku rasanya sesak saat memikirkannya,  air mataku juga akan mengalir saat membayangkan sosoknya, dan saat mengingat luka yang ia buat, luka itu akan semakin menganga dan memberi rasa sakit yang teramat.
            Satu hal lagi, aku ingin melihat sosoknya, tidak, aku ingin melihat senyumnya, apalagi saat senyum itu hanya tertuju untukku. Juga suara lembutnya yang begitu menyentuh kalbuku, aku rindu semua tentangnya.
            Sungguh aku sangat menginginkan itu, tapi... apalah daya, aku tak bisa berbuat apa-apa, keberadaanya saat ini pun aku tak tahu, apakah dia sedang tidur nyenyak? Apakah dia sedang membaca bukunya? Apakah dia sedang bekerja, atau apakah dia sedang bersama wanita lain?, aku tak pernah tahu itu.
            Rasanya tidak akan pernah mungkin aku bisa melihatnya lagi dan melepas rasa rindu ini, dulu saat masih bisa melihatnya saja, aku tak bisa melakukan apapun, diriku terlalu pengecut untuk itu, selalu berada di zona aman tanpa mencoba tuk melangkah keluar, bahkan saat ia mendekat menghampiri bukan kusapa lembut, namun malah menjauh menghindar bersembunyi.
            Lalu? Akan dibawa kemana rasa rindu ini? yang semakin hari makin menyesakkan dada, yang semakin hari makin menyiksa diri,  entah, apakah hanya mengintip fotonya di akun sosmednya? Iya benar, hanya itu, dan itu tak akan pernah cukup, tak akan bisa menyembuhkan rasa sesak ini, bahkan untuk membalutnya saja tak akan bisa.
            Sungguh ingin sekali aku menghampirinya, membisikkan kata-kata indah ditelinganya, dan memeluk erat tubuhnya, tapi sayangnya aku tak memiliki keberanian sedikitpun. Ini hanya cinta sepihak, cinta bertepuk sebelah tanganku.
            Tetap sama, acapkali aku berdiam sendiri melamun, sekelebat bayangan tentangnya memenuhi otakku, menari-nari seolah tanpa beban, dan mengganggu tidur nyenyakku.
            Duh! Orang itu, Bayangannya masih saja hadir dan membuat rasa sesak di dada yang teramat sakit, bahkan tanpa dirasa butiran-butiran bening pun turut andil jatuh perlahan membasahi pipi, apakah itu bisa disebut dengan rindu?
            Entah, meski hanya beberapa saat, bukan, satu menit, bukan, hanya satu detik. Namun itu sukses buatku goyah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS