RSS

Sebait Rindu



            Apakah aku merindukannya?
            Entah, namun, sepertinya rasa ini terasa berat, dadaku rasanya sesak saat memikirkannya,  air mataku juga akan mengalir saat membayangkan sosoknya, dan saat mengingat luka yang ia buat, luka itu akan semakin menganga dan memberi rasa sakit yang teramat.
            Satu hal lagi, aku ingin melihat sosoknya, tidak, aku ingin melihat senyumnya, apalagi saat senyum itu hanya tertuju untukku. Juga suara lembutnya yang begitu menyentuh kalbuku, aku rindu semua tentangnya.
            Sungguh aku sangat menginginkan itu, tapi... apalah daya, aku tak bisa berbuat apa-apa, keberadaanya saat ini pun aku tak tahu, apakah dia sedang tidur nyenyak? Apakah dia sedang membaca bukunya? Apakah dia sedang bekerja, atau apakah dia sedang bersama wanita lain?, aku tak pernah tahu itu.
            Rasanya tidak akan pernah mungkin aku bisa melihatnya lagi dan melepas rasa rindu ini, dulu saat masih bisa melihatnya saja, aku tak bisa melakukan apapun, diriku terlalu pengecut untuk itu, selalu berada di zona aman tanpa mencoba tuk melangkah keluar, bahkan saat ia mendekat menghampiri bukan kusapa lembut, namun malah menjauh menghindar bersembunyi.
            Lalu? Akan dibawa kemana rasa rindu ini? yang semakin hari makin menyesakkan dada, yang semakin hari makin menyiksa diri,  entah, apakah hanya mengintip fotonya di akun sosmednya? Iya benar, hanya itu, dan itu tak akan pernah cukup, tak akan bisa menyembuhkan rasa sesak ini, bahkan untuk membalutnya saja tak akan bisa.
            Sungguh ingin sekali aku menghampirinya, membisikkan kata-kata indah ditelinganya, dan memeluk erat tubuhnya, tapi sayangnya aku tak memiliki keberanian sedikitpun. Ini hanya cinta sepihak, cinta bertepuk sebelah tanganku.
            Tetap sama, acapkali aku berdiam sendiri melamun, sekelebat bayangan tentangnya memenuhi otakku, menari-nari seolah tanpa beban, dan mengganggu tidur nyenyakku.
            Duh! Orang itu, Bayangannya masih saja hadir dan membuat rasa sesak di dada yang teramat sakit, bahkan tanpa dirasa butiran-butiran bening pun turut andil jatuh perlahan membasahi pipi, apakah itu bisa disebut dengan rindu?
            Entah, meski hanya beberapa saat, bukan, satu menit, bukan, hanya satu detik. Namun itu sukses buatku goyah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar