Bulan desember, seperti hari-hari
kemarin, juga hari ini, dan mungkin juga hari-hari berikutnya, langit akan
terus memuntahkan tangisnya. Jika matahari sudah naik sepenggalan, maka sudah
hampir bisa dipastikan wajahnya akan mulai mengerut muram dan mendung akan
berarak membungkus serta melenyapkan dari penglihatan. Memaksanya terisak,
kadang sedu-sedanya begitu kencang, tetapi hanya beberapa saat dan berangsur
tenang. Namun ada kalanya ia menangis sepanjang siang, merambat sore dan
berlanjut di malam harinya mengembuskan hawa dingin yang merasuk
tulang-belulang, mengiriskan batin dan membuaikan romantisme-romantisme yang
tak muncul saat hari terang, ya, terkadang hujan membangkitkan kenangan.
Terkadang kenangan indah yang datang, tetapi disaat lain kenangan yang menyedihkan, bahkan
membangkitkan kembali cerita yang terpendam dalam kurun waktu yang lama. Hujan
telah mengelontarkan berbagai cerita dari bilik benak manusia. Ia dapat
membasuh luka, menyiramnya tak bersisa, atau sebaliknya, menyirami dan menumbuhkan
sesuatu, baik sesuatu yang baru maupun yang telah mati lama.
Ambhita
Dhiyaningrum






0 komentar:
Posting Komentar