Langit...
kau tak berujung kaupun tak beratap, kau hanya hamparan luas, tapi kau memiliki warna yang tak konsisten, kadang kau berwarna biru, kadang pula kau berwarna putih dan saat mendung kau berwarna hitam pekat.
kau tak berujung kaupun tak beratap, kau hanya hamparan luas, tapi kau memiliki warna yang tak konsisten, kadang kau berwarna biru, kadang pula kau berwarna putih dan saat mendung kau berwarna hitam pekat.
Langit...
kau indah, indah dengan semua yang kau miliki, sempuran dengan apa yang kau miliki, dan kau sempurna apa adanya, meski hanya seperti hamparan tapi pada dirimu ku temukan mimpi-mimpiku, mimpi-mimpi yang suatu saat nanti mimpi itu bukan sekedar mimpi.
kau indah, indah dengan semua yang kau miliki, sempuran dengan apa yang kau miliki, dan kau sempurna apa adanya, meski hanya seperti hamparan tapi pada dirimu ku temukan mimpi-mimpiku, mimpi-mimpi yang suatu saat nanti mimpi itu bukan sekedar mimpi.
Langit... bolehkah aku melukis mimpi-mimpiku pada dirimu?
Gumpalan-gumpalan awan putih yang kau miliki membantuku melukis dan membentuk
bayangan-bayangan yang memenuhi fikiranku. Jari-jariku seolah mengukir pena
pada gumpalan-gumpalan itu, dan membentuk hal yang terindah yang belum dan akan
menjadi nyata.
Langit...
aku tak pernah jemu memandangmu, meski terkadang sengatan matahari menusuk-nusuk kulitku dan membuat mataku terasa perih, tapi langit... aku tak pernah mengerti kenapa kau menangis dan menumpahkan semua air matamu hingga membasahi tubuhku, kau tahu langit... air matamu itu begitu sakit untukku. Rasa sakit itu seperti ribuan semut menempel dan menggigit tubuhku.
aku tak pernah jemu memandangmu, meski terkadang sengatan matahari menusuk-nusuk kulitku dan membuat mataku terasa perih, tapi langit... aku tak pernah mengerti kenapa kau menangis dan menumpahkan semua air matamu hingga membasahi tubuhku, kau tahu langit... air matamu itu begitu sakit untukku. Rasa sakit itu seperti ribuan semut menempel dan menggigit tubuhku.
Langit...
aku tak tahu kenapa aku menyukai dan menikmatimu ketika kau merubah dirimu menjadi hitam pekat, dan meneteskan air mata, air mata yang tenang yang membuat hati, jiwa dan perasaanku berangsur tenang di buatmu.
aku tak tahu kenapa aku menyukai dan menikmatimu ketika kau merubah dirimu menjadi hitam pekat, dan meneteskan air mata, air mata yang tenang yang membuat hati, jiwa dan perasaanku berangsur tenang di buatmu.






0 komentar:
Posting Komentar