kurindu sahabat kecilku
menangis bersama bulan
Anggan yang Tak Pasti
ketika semua angganku tak akan pernah terjadi
mungkin saat itu kau tak akan ada lagi dalam duniaku
aku akan pergi dan menjauh darimu
semua yang aku inginkan
semua yang aku bayangkan hanya membuat hati semakin terluka.
berakhir tanpa kata
tanpa senyuman
tanpa kata perpisahan
semua berakhir dengan sia-sia.
dengan tangkas aku harus membuangnya
melangkah ke depan tanpa menengok lagi ke belakang
akankah aku bisa melupakannya?
Akankah aku bisa menghapus semua tentangnya?
Padahal terlalu banyak kisah yang ku ukir bersamanya...
Rindu Keluarga
aku merindukan suasana saat itu
saat-saat bersama keluargaku
saat-saat terindah dalam hidupku
sayangnya sulit, sekali untuk mengulang masa-masa itu.
mak.. abah.., dan kakak-kakakku aku rindu kalian
aku ingin menghabiskan waktu bersama kalian
aku rindu dengan masa kecilku
dimana kalian semua masih berada di sampingku
kini kalian saudara-saudaraku sudah mempunyai kehidupan masing-masing
rasanya sulit sekali untuk bercanda bersama kalian
meski terkadang ada waktu untuk melakukannya
rasanya sulit sekali untuk mendapatkan kasih sayang dari kalian
karna kasih sayang kalian sudah terbagi untuk orang lain
dan tak sepenuhnya untukku seperti sedia kala.
mengenal sosok Pakdhe lebih dekat
suaranya yang lembut membuat banyak orang ingin kembali mendengarkan suaranya lagi dan lagi
tutur katanya yang santun bahkan membuatku terharu mendengarnya
dan tak hanya aku, semua yang berada di sampingnyapun merasakan hal yang sama
aku mengaguminya, sosok pria tua yang masih bekerja keras, tak kenal panas ataupun hujan, meski fisiknya yang tak lagi mendukungnya, rapuh, kering karna termakan usia, dan yang setiap harinya ku cium aroma balsem menempel pada kulitnya yang berkerut.
Pakdhe...
itulah sebutan nama untuknya, yang ku buat bersama teman-temanku, entahlah, ku rasa itu panggilan yang pas untuknya, kami tak mengenal dekat, bahkan namanyapun kami tak tahu, hanya saja kami sering bertemu dengannya, sebatas membeli makanan darinya. tapi sosoknya membuat banyak orang menghormatinya.
aku tak pernah menemukan kesedihan diwajahnya, dan yang selalu ku dapati hanya senyuman manis di wajahnya, tak ada yang tahu, dibalik senyuman itu ada beban berat yang mengganggu fikirannya, malam ini aku bertemu lagi dengannya, masih tetap sama, senyuman manis menyapa, dan tutur kata yang lembut mengiringi. dengan penampilan sederhana dan tak lupa peci putih yang selalu menempel di kepalanya sebagai penghias penampilannya.
Pakdhe..., kau adalah salah satu penyemangat untukku, pembuang rasa sedih dan keputusasaku, dan kau pula membuatku selalu mengsyukuri apa yang aku miliki





