RSS

menangis bersama bulan



“Malam ini ku pandangi bulan, ia tak seindah malam-malam kemarin, ku paksakan diri tuk tersenyum kepadanya tapi ia tak membalas senyumku, dan ku pikir ia sedang bersedih seperti yang kurasakan malam ini, ku lihat, cahayanya suram dan mulai memudar dan membuat aku berlarut sedih bersamanya”.
Malam ini, di bawah cahaya suram bulan, aku teringat akan sosok Ayahku, seseorang yang dermawan dan bijaksana, disegani oleh banyak orang, dan aku sangat mengeguminya.
Tiga tahun yang lalu aku meninggalkan kampung halamanku, rumahku, dan keluargaku, termasuk kedua orang tuaku, aku pergi merantau untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi dengan melalui beasiswa, semenjak kepergianku dan sampai saat ini aku belum pernah pulang dan bertemu dengan keluargaku, dua minggu yang lalu ibuku mengirim surat kepadaku, dia mengabarkan bahwa Ayah telah meninggal, dan aku hanya bisa menangis dan mendoakannya saja dari sini, bukannya aku tak mau pulang tapi keadaan disini yang tak memungkinkanku untuk pulang, sementara itu aku tak punya uang untuk ongkos pulang.
Malam ini dengan segenap rasa rinduku kepada Ayahku, sebuah memori kecil terputar kembali dalam kepalaku, memori indah bersama Ayahku,saat itu sewaktu aku masih kecil aku pernah bertengkar dengan adikku, bukan tanpa alasan, adikku mengambil barang kesayanganku, kami bertengkar hebat, dan malangnya, karna aku lebih tua dari adikku, Ibu menyalahkanku dan memintaku untuk memberikan barang kesayanganku kepada Adikku, aku menangis dan marah sambil berlari ke kamar denga membanting pintu kamarku dengan keras, dan menangis tersedu-sedu di dalamkamar, tak lama Ayahku datang menemuiku, awalnya aku mengusir Ayahku, tapi ia tetap berada disampingku dengan berusaha meredahkan emosiku, tapi aku tetap keras kepala dan tak mau mendengarkan bujukan Ayahku yang mengajakku keluar dan jalan-jalan di luar rumah,tapi aku tetap tak mau dan melanjutkan tangisku,  tak lama mungkin karna Ayahku kehilangan kesabaran ia menarik tubukku dan memaksaku lalu menggendongku di punggungnya.
Malam itu, tepat malam bulan purnama dimana bulan benar-benar utuh dan terlihat sangat indah, dalam gendongan Ayahku aku menikmati pemandangan itu, Ayahku tersenyum karna melihatku mengusap air mataku dan mulai tersenyum menikmati malam yang indah.
Dalam perjalanan, Ayahku bercerita kepadaku, dahulu sewaktu Ayahku masih kecil dan sebelum Ayahku pindah ke tempat ini, Ayahnya Ayahku atau Kakekku, setiap malam selalu mengajak Ayah mencari ikan di sungai dekat desanya, karna masih belum ada listrik jadi Ayah dan Kakek saat berjalan hanya mengandalkan cahaya bulan dan obor kecil dalam genggaman tangan Kakek.
Ayahku berjalan terbata-bata di belakang Kakek dengan menggenggam baju Kakek, mungkin karna rasa kantuk hebat yang masih mengganggu matanya dan membuatnya tak ingin terbuka, tapi ketika Ayah sudah sampai di perahu kecil Kakek, rasa kantuk itu menghilang, mungkin karna keindahan malam itu, dan juga karna ikan-ikan yang mulai banyak terkumpul dalam jaring Kakek.
Mendengar cerita Ayah membuat aku tak lagi bersedih, setelah berjalan akhirnya kami sampai pada tempat tujuan, Ayah menurunkanku dalam gendongannya dan memperlihatkan padaku keindahan dunia yang sampai saat ini tak dapat ku lupakan, kami berdua menikmati indahnya malam itu di atas bukit kecil yang dari bawah bukit itu terlihat sangat indah seolah berdiri di atas awan, Ayahku bilang tempat itu adalah tempat Ayahku ketika Ayahku sedang bersedih, Ayah menangis dan mengeluarkan amarahnya ketika berada di tempat itu dan Ayahku bilang, tak ada orang yang tahu tempat itu kecuali aku dan Ayahku. Sebuah tempat rahasia antara aku dan Ayahku, bahkan Ibukupun tak tahu tempat itu.
Aku rindu saat-saat itu, saat-saat dimana aku sering menghabiskan waktuku bersama Ayahku di tempat-tempat yang tak pernah ku temukan keindahannya, kini semua itu hanyalah menjadi sebuah kenangan, kenangan yang tak akan pernah terlupakan olehku.
Malam ini, malam semakin dingin, suara kenalpot kendaraan mulai berkurang, tampak remang-remang lampu kota yang semakin terang mengalahkan cahaya bintang, mengalahkan cahaya bulan yang semakin meredup, malam ini dalam diam aku menangis bersama bulan.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar