RSS

kurindu sahabat kecilku



Merindukan sahabat kecilku
Malam  itu, ku temukan sebuah buku kecil, aku ingat itu adalah buku diaryku semasa aku masih SD, buku itu saat ini tlah usang, dan berdebu, aku masih ingat buku itu aku buat sendiri dengan kreatifitasku sendiri. Ketika kubuka dan ku baca selembar demi lembar, aku tertawa sendiri selain karna tulisan yang masih brantakan juga kisah dibuku itu sangatlah lucu, bahkan akupun tlah lupa dengan peristiwa yang sudah ku tulis dalam buku diaryku itu.
Tapi... , malam itu buku itu pula membuatku menangis, entah kenapa air mataku sulit sekali tuk kuhentikan, ia mengalir terus- menerus.
Satu lembar sebelum bagian terakhir ku temukan tulisan seorang yang sangat kusayangi, dia adalah sahabat keciku yang saat ini sudah tak lagi ada di dunia ini, kurang lebih lima tahun sudah ia meninggalkanku. Dan saat ini goresan penanya yang tertinggal dalam buku diaryku mengingatkanku padanya dan membuatku menangis.
Aku merindukannya, bahkan sampai saat ini aku masih mengharapkankanya hadir di dunia ini. aku terus membayangkan kehadirannya dan mengisi duniaku, mungkin semuanya tak akan seburuk ini, mungkin semuanya akan jauh lebih indah jika saja dia masih ada. dia bahkan saat ini tak pernah lagi hadir dalam mimpiku ketika aku merindukannya.
Sahabat kecilku, aku benar-benar merindukanmu...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

menangis bersama bulan



“Malam ini ku pandangi bulan, ia tak seindah malam-malam kemarin, ku paksakan diri tuk tersenyum kepadanya tapi ia tak membalas senyumku, dan ku pikir ia sedang bersedih seperti yang kurasakan malam ini, ku lihat, cahayanya suram dan mulai memudar dan membuat aku berlarut sedih bersamanya”.
Malam ini, di bawah cahaya suram bulan, aku teringat akan sosok Ayahku, seseorang yang dermawan dan bijaksana, disegani oleh banyak orang, dan aku sangat mengeguminya.
Tiga tahun yang lalu aku meninggalkan kampung halamanku, rumahku, dan keluargaku, termasuk kedua orang tuaku, aku pergi merantau untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi dengan melalui beasiswa, semenjak kepergianku dan sampai saat ini aku belum pernah pulang dan bertemu dengan keluargaku, dua minggu yang lalu ibuku mengirim surat kepadaku, dia mengabarkan bahwa Ayah telah meninggal, dan aku hanya bisa menangis dan mendoakannya saja dari sini, bukannya aku tak mau pulang tapi keadaan disini yang tak memungkinkanku untuk pulang, sementara itu aku tak punya uang untuk ongkos pulang.
Malam ini dengan segenap rasa rinduku kepada Ayahku, sebuah memori kecil terputar kembali dalam kepalaku, memori indah bersama Ayahku,saat itu sewaktu aku masih kecil aku pernah bertengkar dengan adikku, bukan tanpa alasan, adikku mengambil barang kesayanganku, kami bertengkar hebat, dan malangnya, karna aku lebih tua dari adikku, Ibu menyalahkanku dan memintaku untuk memberikan barang kesayanganku kepada Adikku, aku menangis dan marah sambil berlari ke kamar denga membanting pintu kamarku dengan keras, dan menangis tersedu-sedu di dalamkamar, tak lama Ayahku datang menemuiku, awalnya aku mengusir Ayahku, tapi ia tetap berada disampingku dengan berusaha meredahkan emosiku, tapi aku tetap keras kepala dan tak mau mendengarkan bujukan Ayahku yang mengajakku keluar dan jalan-jalan di luar rumah,tapi aku tetap tak mau dan melanjutkan tangisku,  tak lama mungkin karna Ayahku kehilangan kesabaran ia menarik tubukku dan memaksaku lalu menggendongku di punggungnya.
Malam itu, tepat malam bulan purnama dimana bulan benar-benar utuh dan terlihat sangat indah, dalam gendongan Ayahku aku menikmati pemandangan itu, Ayahku tersenyum karna melihatku mengusap air mataku dan mulai tersenyum menikmati malam yang indah.
Dalam perjalanan, Ayahku bercerita kepadaku, dahulu sewaktu Ayahku masih kecil dan sebelum Ayahku pindah ke tempat ini, Ayahnya Ayahku atau Kakekku, setiap malam selalu mengajak Ayah mencari ikan di sungai dekat desanya, karna masih belum ada listrik jadi Ayah dan Kakek saat berjalan hanya mengandalkan cahaya bulan dan obor kecil dalam genggaman tangan Kakek.
Ayahku berjalan terbata-bata di belakang Kakek dengan menggenggam baju Kakek, mungkin karna rasa kantuk hebat yang masih mengganggu matanya dan membuatnya tak ingin terbuka, tapi ketika Ayah sudah sampai di perahu kecil Kakek, rasa kantuk itu menghilang, mungkin karna keindahan malam itu, dan juga karna ikan-ikan yang mulai banyak terkumpul dalam jaring Kakek.
Mendengar cerita Ayah membuat aku tak lagi bersedih, setelah berjalan akhirnya kami sampai pada tempat tujuan, Ayah menurunkanku dalam gendongannya dan memperlihatkan padaku keindahan dunia yang sampai saat ini tak dapat ku lupakan, kami berdua menikmati indahnya malam itu di atas bukit kecil yang dari bawah bukit itu terlihat sangat indah seolah berdiri di atas awan, Ayahku bilang tempat itu adalah tempat Ayahku ketika Ayahku sedang bersedih, Ayah menangis dan mengeluarkan amarahnya ketika berada di tempat itu dan Ayahku bilang, tak ada orang yang tahu tempat itu kecuali aku dan Ayahku. Sebuah tempat rahasia antara aku dan Ayahku, bahkan Ibukupun tak tahu tempat itu.
Aku rindu saat-saat itu, saat-saat dimana aku sering menghabiskan waktuku bersama Ayahku di tempat-tempat yang tak pernah ku temukan keindahannya, kini semua itu hanyalah menjadi sebuah kenangan, kenangan yang tak akan pernah terlupakan olehku.
Malam ini, malam semakin dingin, suara kenalpot kendaraan mulai berkurang, tampak remang-remang lampu kota yang semakin terang mengalahkan cahaya bintang, mengalahkan cahaya bulan yang semakin meredup, malam ini dalam diam aku menangis bersama bulan.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Anggan yang Tak Pasti



Ketika semua anganku tak dapat lagi ku temukan
ketika semua angganku tak akan pernah terjadi
mungkin saat itu kau tak akan ada lagi dalam duniaku
aku akan pergi dan menjauh darimu
semua yang aku inginkan 
semua yang aku bayangkan hanya membuat hati semakin terluka.
Satu tetes air mata hanya akan sia-sia
berakhir tanpa kata
tanpa senyuman 
tanpa kata perpisahan 
semua berakhir dengan sia-sia.
Dan ketika keterpurukan itu hadir
dengan tangkas aku harus membuangnya
melangkah ke depan tanpa menengok lagi ke belakang
akankah aku bisa melupakannya? 
Akankah aku bisa menghapus semua tentangnya? 
Padahal terlalu banyak kisah yang ku ukir bersamanya...
ku tahu meski hanya dalam imajinasiku..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rindu Keluarga



Aku merindukan kebersamaan
aku merindukan suasana saat itu
saat-saat bersama keluargaku
saat-saat terindah dalam hidupku
sayangnya sulit, sekali untuk mengulang masa-masa itu.

mak.. abah.., dan kakak-kakakku aku rindu kalian
aku ingin menghabiskan waktu bersama kalian 
aku rindu dengan masa kecilku
dimana kalian semua masih berada di sampingku

kini kalian saudara-saudaraku sudah mempunyai kehidupan masing-masing 
rasanya sulit sekali untuk bercanda bersama kalian
meski terkadang ada waktu untuk melakukannya
rasanya sulit sekali untuk mendapatkan kasih sayang dari kalian
karna kasih sayang kalian sudah terbagi untuk orang lain 
dan tak sepenuhnya untukku seperti sedia kala.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

mengenal sosok Pakdhe lebih dekat

suaranya yang lembut membuat banyak orang ingin kembali mendengarkan suaranya lagi dan lagi
tutur katanya yang santun bahkan membuatku terharu mendengarnya
dan tak hanya aku, semua yang berada di sampingnyapun merasakan hal yang sama
aku mengaguminya, sosok pria tua yang masih bekerja keras, tak kenal panas ataupun hujan, meski fisiknya yang tak lagi mendukungnya, rapuh, kering karna termakan usia, dan yang setiap harinya ku cium aroma balsem menempel pada kulitnya yang berkerut.

Pakdhe...
itulah sebutan nama untuknya, yang ku buat bersama teman-temanku, entahlah, ku rasa itu panggilan yang pas untuknya, kami tak mengenal dekat, bahkan namanyapun kami tak tahu, hanya saja kami sering bertemu dengannya, sebatas membeli makanan darinya. tapi sosoknya membuat banyak orang menghormatinya.
aku tak pernah menemukan kesedihan diwajahnya, dan yang selalu ku dapati hanya senyuman manis di wajahnya, tak ada yang tahu, dibalik senyuman itu ada beban berat yang mengganggu fikirannya, malam ini aku bertemu lagi dengannya, masih tetap sama, senyuman manis menyapa, dan tutur kata yang lembut mengiringi. dengan penampilan sederhana dan tak lupa peci putih yang selalu menempel di kepalanya sebagai penghias penampilannya.

Pakdhe..., kau adalah salah satu penyemangat untukku, pembuang rasa sedih dan keputusasaku, dan  kau pula membuatku selalu mengsyukuri apa yang aku miliki

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

bulan desember



            Bulan desember, seperti hari-hari kemarin, juga hari ini, dan mungkin juga hari-hari berikutnya, langit akan terus memuntahkan tangisnya. Jika matahari sudah naik sepenggalan, maka sudah hampir bisa dipastikan wajahnya akan mulai mengerut muram dan mendung akan berarak membungkus serta melenyapkan dari penglihatan. Memaksanya terisak, kadang sedu-sedanya begitu kencang, tetapi hanya beberapa saat dan berangsur tenang. Namun ada kalanya ia menangis sepanjang siang, merambat sore dan berlanjut di malam harinya mengembuskan hawa dingin yang merasuk tulang-belulang, mengiriskan batin dan membuaikan romantisme-romantisme yang tak muncul saat hari terang, ya, terkadang hujan membangkitkan kenangan. Terkadang kenangan indah yang datang, tetapi disaat  lain kenangan yang menyedihkan, bahkan membangkitkan kembali cerita yang terpendam dalam kurun waktu yang lama. Hujan telah mengelontarkan berbagai cerita dari bilik benak manusia. Ia dapat membasuh luka, menyiramnya tak bersisa, atau sebaliknya, menyirami dan menumbuhkan sesuatu, baik sesuatu yang baru maupun yang telah mati lama.







Ambhita Dhiyaningrum

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS